Search Engine Submission - AddMe <!--Can't find substitution for tag [blog.Title]-->| 2bwithme.blogspot.com Iis Mulyani: Maret 2010

Sabtu, 20 Maret 2010

Mengatasi Anak Pemalu

Everybody is unique.. Tentu kita sering dengar istilah itu. Tapi saat menghadapi anak yang memiliki sifat atau perilaku yang cenderung ekstrim dibanding anak lainnya, tak jarang orang tua sulit memposisikan diri dan bingung bagaimana menghadapinya.

Demikian hal nya yang terjadi pada anak bungsu saya dan saya sebagai orang tuanya.
Anak bungsu saya memiliki sifat pemalu yang cukup ekstreem. Berbagai hal kecil bisa menyebabkan dia merasa malu.

Pada 2.5 th di awal masa sekolahnya (Play group, TKA, dan TKB) bahkan dia hampir tidak pernah mau makan di kelas ataupun berenang dengan alasan malu. Dan akhirnya di pertengahan masa TKB, dia mulai berubah.

Anda mungkin pernah mengalami hal ini dan bingung bagaimana menghadapinya. Saya coba sharing analisa, pengamatan, dan beberapa kesimpulan berdasarkan apa yang saya alami.

Beberapa penyebab malu justru tidak terpikirkan sebelumnya oleh saya. Beberapa penyebab yang menimbulkan perasaan malu pada anak saya, antara lain:
- Sesuatu yang menurut pandangan umum dianggap jelek, misal sepatu sobek (tentu ini hal umum ya, dimana semua orang mungkin akan merasa malu jika mengalaminya :) )
- Sesuatu yang berbeda dengan sebagian besar orang lain, misal salah seragam, tidak menggunakan tas seragam
- Pujian yang langsung ditujukan pada dirinya dihadapan banyak orang dan mengakibatkan banyak orang memperhatikan dia
- Berbagai hal yang ada pada dirinya yang menarik perhatian orang lain, misal jam tangan dan tas yang lucu, datang sekolah terlambat
- Merasa akan diperhatikan / menjadi perhatian orang lain, misal tampil di panggung sekolah

Lalu bagaimana orang tua menghadapinya?
Seringkali setelah sekian lama mencoba membujuk (mulai dari bentuk hadiah atau bahkan kadang bisa dikatakan 'ancaman' misal, tidak boleh ikut jalan-jalan), saya terjebak pada perasaan putus asa, bingung, dan akhirnya menjadi marah / temperamen. Tentu saja sikap saya ini justru semakin memperburuk keadaan.

Saya coba perhatikan kondisi lingkungan dan kemungkinan perbedaan treatment antara dia dan kakaknya bahkan kawan-kawannya. Saya menyimpulkan untuk kondisi anak saya seharusnya tidak ada yang menjadi pemicu sifat pemalu ini.

Akhirnya saya mencoba meyakini bahwa ini mungkin disebabkan faktor kematangan usia. Dengan keyakinan tersebut, saya coba biarkan anak saya menjalani hari-harinya apa adanya. Termasuk diam mematung saat jam makan di sekolah. Komunikasi seputar kegiatan dia setiap hari tetap terus saya lakukan, sambil mencoba mengatasi rasa malunya.

Saya coba mengatasi rasa malu anak saya secara fokus satu persatu mulai dari yang kecil/sepele, misal: memakai jam tangan yang menarik perhatian, setelah satu hal tsb bisa dia atasi, saya tambah hal lain seperti menggunakan tas yang berbeda (sepanjang hal ini tidak melanggar aturan sekolah), dst..

Alhamdulillah, saat dia mulai bisa mengatasi rasa malu pada satu hal, kepercayaan dirinya menjadi meningkat, sehingga tahap selanjutnya menjadi tidak terlalu sulit dan lama.

Ditambah lagi dengan bertambahnya kematangan usia, tentunya hal ini semakin mempermudah proses yang dijalaninya. Akhirnya, perkembangannya semakin hari semakin baik. Hari ini dia sudah berani tampil dalam team Drum Band di sekolahnya...

Semoga sharing saya dapat membantu teman-teman yang mengalami hal yang sama... Amien.